Senin, 28 Oktober 2013

UTS telah tiba !!!

Yeay !!! Ujian Tengah Semester telah menyapa. Hahaha -_- Tidak terasa memang, ternyata sudah setengah semester saya melewati hari-hari ~ Dan sekarang tibalah saatnya UTS untuk menguji pengetahuan saya akan mata kuliah yang saya ambil di semester ini. Termasuk juga mata kuliah yang menurut saya cukup unik. Kenapa unik ?? Jelas karena metode perkuliahan ini yang tidak biasa. Salah satu buktinya ya blog ini. Dan saya senang ~~~~ *yeyeyelalalala* #4L4yModeOn-SKIP-

Alhamdulillah akhirnya ketiga soal UTS sudah saya lewati. Pada dasarnya metode UTS kali ini benar-benar sangat menarik dan membuat saya lebih bersemangat dalam mengerjakan setiap soal yang pengampu berikan. Metode seperti apa ?? Yang jelas metode ujian seperti ini sangat jarang digunakan sehingga memberikan penyegaran tersendiri buat saya. Metodenya full online, maksudnya adalah sistem yang digunakan full menggunakan sarana elektronik. Tepatnya media yang kita kenal dengan email. Jadi, pengampu akan mengirimkan tiga buah soal secara berkala dan interaksi yang dilakukan menggunakan media tersebut. Seru kan ?? Yaiyalah -_______________-

Meskipun saya akui bahwa saya menjawab setiap pertanyaan dengan tempo yang tidak cepat, namun semaksimal mungkin saya berusaha menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan kalau ditelaah kembali, sebenarnya hal ini erat kaitannya dengan salah satu teori mengenai motivasi akademik yaitu komponen nilai tugas dalam model ekspektasi nilai. Terdapat empat komponen yang pada dasarnya memotivasi saya dalam melakukan tugas ini dengan maksimal, yaitu :
1.       Nilai pencapaian, tentunya saya ingin memperoleh nilai yang maksimal pada UTS kali ini dengan semaksimal mungkin untuk menunjang nilai akhir saya pada mata kuliah ini. Dengan mendapatkan nilai yang maksimal, maka harapan saya untuk mendapatkan nilai akhir di mata kuliah Psikologi Belajar akan semakin mudah saya peroleh.
2.       Nilai instrinsik, secara pribadi saya sangat menyukai metode yang digunakan. Sehingga membuat saya semakin bersemangat untuk menjalankan ujian dengan metode yang bisa dianggap tidak biasa ini.
3.      Nilai kemanfaatan, pastilah dengan saya mengerjakan setiap jawaban dengan sebaik mungkin maka nilai saya akan memuaskan dan bermanfaat untuk akhir dari perkuliahan yaitu nilai akhir pada mata kuliah ini.
4.      Dan dari segi biaya, memang harus saya akui bahwa saya tidak dapat cukup maksimal untuk menjawab setiap soal dalam tempo secepat-cepatnya. Disamping karena saya membutuhkan waktu untuk memikirkan jawaban terbaik yang bisa saya berikan, juga dikarenakan adanya beberapa kegiatan lain yang harus saya lakukan sehingga membuat tugas ini pada akhirnya terkirim tidak cepat. 

Selain itu, teori Skinner menurut saya juga dapat secara jelas memaparkan bagaimana proses UTS ini berlangsung. Pemberian reward berupa feedback dan pujian dari pengampu (seperti bagus, cukup baik, dsb) membuat saya semakin terpacu untuk memberikan jawaban selanjutnya dengan lebih baik lagi. Sebaliknya, reinforcement negatif yang diberikan kepada saya apabila tidak sigap dalam memberikan jawaban atau lebih menggunakan 'the power of kepepet' merupakan satu cara yang cukup ampuh untuk membuat saya tidak melakukan hal ini lagi. Karena dengan diingatkan tentang hal tersebut, saya jadi semakin sadar bahwa hal tersebut tidak baik.

Namun secara keseluruhan, saya sangat senang dengan metode seperti ini dan memberikan sensasi dan suasana tersendiri akan ujian tengah semester. UTS yang biasanya disambut dengan rasa deg-degan dan ketakutan yang luar biasa, namun dengan metode seperti ini memberikan saya sedikit ketenangan meskipun tetap harus fokus dan serius. Terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada pengampu mata kuliah ini yaitu Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd atas segala feedback dan reinforcement yang Ibu berikan. Karena semuanya menjadi bahan pembelajaran kepada saya untuk menjadi lebih baik lagi.

Dan pada akhirnya segala usaha saya kali ini berbuah manis. Jujur saya sangat kaget ketika saya melihat rekap nilai yang dipaparkan oleh pengampu. Antara percaya dan tidak, nilainya bahkan melampaui ekspektasi awal saya. Alhasil, UTS ini memberikan banyak energi positif yang membuat saya semakin bersemangat menghadapi UTS semester ini. Dan UTS mata kuliah Psikologi Belajar menjadi awal yang baik bagi saya. Hahahaha J Keep Spirit chingudeul ~ *kolaborasibahasa*




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 21 Oktober 2013

Pengalaman Mengenai Peran Kultur Terhadap Proses Belajar - Teori Vygotsky

Vygotsky menyatakan bahwa kemampuan kognitif seseorang berasal dari hubungan sosial dan kultur. Baik itu kultur individual maupun hubungan pendidikan dengan perkembangan berperan penting dalam perkembangan kognitif karena memberi dasar untuk menyimpulkan asumsi dasar tentang pembelajaran. Menurut Vygotsky, kultur bukan hanya memberi latar untuk pengembangan kognitif individual. Kultur juga memberi simbol-simbol kultural (perangkat psikologis) dan anak belajar berpikir dengan bentuk penalaran ini.

Paragraf di atas menyadarkan saya bahwa memang kultur yang ada di kehidupan sehari-hari sangat berpengaruh akan perilaku dan proses pembelajaran saya. Seperti beberapa posting saya sebelumnya, kali ini lagi-lagi saya akan memberikan contoh berupa pengalaman saya ketika berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Seperti yang sudah sering saya beritahukan bahwa dulu saya menjalani pendidikan dengan sistem boarding school dimana saya tidak hanya menimba ilmu saja di sekolah tersebut, tapi saya menghabiskan enam dari tujuh hari yang saya miliki setiap minggunya dengan tinggal di asrama. Tentunya dengan latar belakang kehidupan sekolah yang seperti ini, proses pembelajaran sayapun menjadi berbeda dengan siswa yang bersekolah di SMA reguler.

Dengan atau tanpa saya sadari, sedikit banyaknya sistem sekolah yang demikian membuat saya menjadi terbiasa dengan pola hidup dan pola pembelajaran yang disesuaikan dengan kultur tersebut. Di SMA saya, kami dituntut untuk menghabiskan waktu belajar tidak hanya dari pagi hingga siang hari, tetapi pagi hingga malam hari yang dibagi menjadi tiga sesi, yaitu sesi sekolah biasa (seperti sekolah reguler, pagi hingga siang), sesi pengayaan (bimbingan belajar di sore hari namun wajib diikuti seluruh siswa), dan belajar mandiri (belajar bersama kelompok yang sudah dibagikan oleh guru dan dilaksanakan pada malam hari dari pukul 21.00 hingga 23.00). Dengan terbiasanya saya menghabiskan waktu dengan pola belajar yang seperti ini pada akhirnya membuat saya tidak terlalu sulit beradaptasi dengan sistem perkuliahan saat ini di Fakultas Psikologi USU yang bahkan ada jadwal kuliah hingga sore hari atau menghabiskan waktu membuat tugas hingga larut malam. Karena sejak SMA saya sudah terbiasa belajar di kelas atau mengerjakan tugas hingga sore atau malam hari.

Tidak hanya itu, karena saat SMA saya sudah terbiasa melakukan tugas tidak hanya secara individual, tetapi kami juga dibiasakan mengerjakan tugas secara berkelompok, dan juga dikarenakan terbiasa berbagi kehidupan di asrama bersama siswa-siswa lainnya, sehingga tidak terlalu sulit bagi saya beradaptasi dengan sistem perkuliahan yang menuntut kita mampu bekerja dalam kelompok, dan mudah beradaptasi dengan kehidupan berkelompok. Proses pembelajaran seperti itu mudah saya jalani dikarenakan pengaruh kultur yang saya miliki sebelumnya ketika SMA yang mmbantu saya saat menjalani masa-masa perkuliahan. Dengan demikian cukup jelas bahwa memang kultur individu mempengaruhi proses pembelajaran seseorang.

Referensi : Gtedler, Margaret E. (2011). Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Selasa, 15 Oktober 2013

Mengulas Pengalaman Berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Tugas posting-an ini bisa dikatakan cukup terlambat dari waktu deadline yang seharusnya. Bukannya beralibi, tapi LUPA bisa disebut sebagai alasan yang cukup klise namun mampu menjelaskan kenapa keterlambatan ini terjadi *sigh* Mungkin keenakan liburan (jadi ingat, selamat hari raya idul adha semuanyaaaa ~), jadi kelupaan untuk posting tugas kali ini padahal udah selesai dikerjain -_-

Oke, tanpa banyak basa-basi, langsung ke poin utama dari posting-an kali ini. Apalagi kalau bukan pembahasan teori berdasarkan pengalaman. Dan kali ini tokoh serta teori yang diangkat adalaaaaah ... (backsound: jreng jreng jreng) Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. Orang-orang yang berkecimbung (bahasanya -__-) di dunia psikologi atau pendidikan pasti tidak asing lagi dengan nama Beliau kan. Iya kan iyaa kannnn ~~~ (maksa K)

Jean Piaget. Nama tersebut mungkin akan sangat melekat dengan teori yang sering dijumpai di dunia pendidikan. Beliau memang terkenal dengan teori perkembangan kognitif di mana teorinya berfokus untuk menemukan asal muasal logika alamiah dan tranformasinya dari satu bentuk penalaran ke penalaran lainnya yang dibangun oleh individu pada berbagai fase perkembangan kognitif.

Terdapat empat faktor esensial yang mempengaruhi transformasi dari satu bentuk penalaran ke bentuk lainnya, yaitu:
1.      Lingkungan
2.      Kematangan
3.      Pengaruh sosial
4.      Suatu proses yang dinamakan ekuilibrasi yang berfungsi untuk mempertahankan fungsi kecerdasan ketika melakukan transformasi besar

Dalam teorinya Piaget membagi empat periode tahapan perkembangan kognitif. Tahapan ini dibagi berdasarkan usia individu. Tahapan ini tidak sesuai dengan dengan tujuan awal karyanya. Tahap ini merepresentasikan jenis isu-isu logika yang bisa ditangani anak pada fase tertentu dalam perkembangannya. Dalam tahap ini juga Piaget merefleksikan perubahan kesadaran anak tentang proses berpikirnya sendiri. Ia mengidentfikasi tiga peringkat (Pons&Harris, 2001), yaitu :
·         Peringkat pertama, kesadaran praktis yang muncul pada periode sensorimotor
·         Peringkat kedua, kesadaran konseptual diasosiasikan dengan pemikiran operasional konkret
·         Peringkat ketiga, kesadaran reflektif yang penting bagi perkembangan pemikiran operasional formal

Periode Tahapan Perkembangan Kognitif Jean Piaget
Tahap
Proses Penalaran
Periode Sensori Motor
(Kelahiran – 1 tahun)
Kecerdasan prasimbolik dan praverbal berkaitan dengan perkembangan pola tindakan. Inferensi dimulai ketika bayi mengembangkan relasi antar tindakan.
Periode Praoperasional
(2-3 tahun hingga 7-8 tahun)
Permulaan sebagian pemikiran logis, namun pemikiran dan keputusan anak didasari pada petunjuk perseptual.
Periode Operasional Konkret
(7-8 tahun hingga 12-14 tahun)
Berkembangnya cara berpikir logis berhubungan dengan objek yang konkret. Anak mulai mengembangkan beberapa kemungkinan dalam situasi secara sistematis.
Periode Operasional Formal
(di atas 14 tahun)
Kapabilitas untuk secara logis menangani situasi multifaktor mulai muncul. Penalaran bergerak dari situasi hipotesis ke konkret.


Dulu, pada saat saya baru lahir dan mungkin juga terjadi hampir pada semua bayi, ketika ada yang menyentuh kulit bayi, maka secara refleks bagian tubuh tersebut akan tersentak. Misalnya ibu saya menyentuh tangan saya, maka secara refleks saya akan terbangun dan menggerakkan tangan saya tersebut. Setelah beberapa bulan lahir, ketika saya sudah mampu bergerak dengan lebih leluasa, maka mulailah terbentuk kebiasaan apabila tangan saya disentuh maka dengan refleks tangan saya akan bergerak merespon dan kepala serta mata saya akan mengarah kepada objek yang menyentuh saya. Tahapan inilah yang disebut dengan tahap sensorimotor.

Beranjak ke periode berikutnya yaitu saat memasuki masa-masa di playgroup atau sebelum masuk TK, apabila saya membuat sesuatu yang salah misalnya menumpahkan air secara sengaja ke lantai, lalu saya dimarahi oleh orang rumah saya, maka saya berpikir bahwa mereka membenci saya apabila saya menumpahkan air ke lantai sehingga saya tidak akan dibenci apabila saya tidak melakukan hal tersebut. Menurut saya pada saat itu saya dibenci karena saya menumpahkan air dengan sengaja, padahal sebenarnya saya dimarahi bukan karena saya dibenci tetapi untuk menghindari saya akan terpeleset apabila ada air di lantai. Saat itu saya belum mampu memikirkan hal tersebut. Itulah bukti bahwa pada usia tersebut periode perkembangan kognitif saya masih di tahap kedua.

Pada periode ketiga sangat jelas saya alami pada saat belajar matematika di bangku Sekolah Dasar. Guru menjelaskan mengenai bentuk-bentuk bangun datar dan bangun ruang. Saya dapat mengatakan bahwa bangun tersebut merupakan bentuk kubus pada saat guru menunjukkan contoh yaitu kotak kapur misalnya. Namun pada saat guru menjelaskan suatu bentuk dengan kata-kata dan buka berupa gambar atau benda, sulit bagi saya membayangkannya.

Masuk ke periode terakhir dari teori Piaget mulai berlangsung saat masa-masa pubertas dulu, saat pertama-tama mulai mengenal rasa suka terhadap lawan jenis. Secara jelas, rasa suka atau perasaan cinta tidak memiliki bentuk konkret yang dapat dilihat dengan jelas oleh mata kita. Namun, saya paham ketika tiba-tiba saya merasa deg-degan, malu, dsb di depan lawan jenis, maka hal tersebut dapat saya pahami dengan sendirinya dapat terjadi karena saya sedang menyukai orang tersebut atau sedang jatuh cinta.

Dari pengalaman dan teori yang terjabarkan di atas, dapat kita sadari bahwa sesungguhnya setiap individu akan mengalami periode-periode perkembangan kognitif tersebut. Begitu juga dengan saya. Apabila saya mengingat kembali masa-masa kecil saya hingga sekarang, saya dapat menyimpulkan bahwa saya dengan pasti telah melalui tiap periode-periode dari awal hingga periode ke empat, karena memang usia saya yang saat ini sudah mencapai 21 tahun (curhat -_-)

Referensi : Gtedler, Margaret E. (2011). Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana





Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 30 September 2013

TEORI KOGNITIF-SOSIAL SERTA PENGALAMAN TERKAIT

TEORI KOGNITIF-SOSIAL ALBERT BANDURA

Akhirnya sampai juga ke materi yang satu ini. Orang-orang yang berkecimpung (?) di dunia Psikologi pasti sangat familiar dengan nama Albert Bandura. Beliau merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh Psikologi. Dan teori beliau mengenai kognitif sosial (social learning) juga sangat mendunia. Salah satu teori yang dari semester awal sampai semester akhir perkuliahan, bahkan di keseharian kitapun sangat dekat dengan teori ini. Jadi pastinya sangat banyak hal-hal di kehidupan kita yang sesuai dengan teori milik Bandura ini.

Teori kognitif-sosial dari Albert Bandura berusaha menjelaskan belajar dalam latar naturalistik. Lingkungan sosial memberi banyak kesempatan bagi individu untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan yang kompleks melalui observasi perilaku model dan konsekuensi behavioral. Asumsi dasar teori ini berkaitan dengan hakikat belajar dan hasil belajar.

Berikut ini beberapa asumsi teori belajar kognitif-sosial:
1.      Pemelajar dapat :
a.       Mengabstaksi informasi dari pengamatan terhadap orang lain
b.      Membuat keputusan tentang perilaku yang akan dijalankan
2.      Tiga cara relasi yang saling terkaitt antara perilaku/ behavior (B), lingkungan/ environment (E), dan kejadian personal internal/ person (P) akan menjelaskan belajar.
3.      Belajar adalah akuisisi representasi simbolik dalam bentuk kode verbal atau visual.

Dalam latar naturalistik, individu mempelajari perilaku baru melalui observasi atau model serta akibat dari tindakannya. Komponen belajar yaitu :
a.       Model behavioral
b.      Konsekuensi dari perilaku
c.       Proses internal pemelajar
d.      Keyakinan akan ketangguhan diri si pemelajar

Pada kesempatan kali ini saya akan berfokus pada model behavioral. Modelling merupakan salah satu dari beberapa istilah yang familiar dari teori ini. Proses belajar secara modelling sangat erat kaitannya dengan pembelajaran kita dikehidupan sehari-hari baik sadar maupun tanpa disadari, teori ini memberikan pengaruh dalam perilaku kita.

Berikut ini pengalaman pribadi saya yang berkaitan dengan teori Bandura yaitu modelling :

Kebetulan saat SMA dulu saya bersekolah di boarding school dimana sistem yang dipakai berupa semi pesantren dan semi militer. Saya yang awalnya berasal dari salah satu SMP di Medan harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang saya anggap cukup berbeda jauh dari apa yang biasa saya lakukan. Di SMA, kami dituntut untuk berpakaian tertutup dan sopan. Dalam pemikiran saya saat itu, memakai baju tangan panjang dan tidak ketat sepanjang paha, celana panjang jenis jeans yang tidak terlalu ketat, dan jilbab yang biasa disebut jilbab paris, merupakan pakaian yang dikategorikan sebagai pakaian tertutup dan sopan. Betapa terkejutnya saya ketika mendapat teguran dari salah seorang guru yang melihat pakaian saya tersebut dan mengatakan bahwa saya harus mengganti sesuai dengan yang diminta oleh sekolah. Saya bingung dengan maksud dari peraturan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan melihat cara berpakaian beberapa orang siswa lainnya, saya akhirnya mulai memahami maksud dari berpakaian tertutup dan sopan. Karena ternyata yang dimaksudkan adalah berpakaian yang tidak ketat dan panjang, menggunakan celana kain goyang atau rok, dan memakai jilbab tebal atau berlapis sehingga tidak tembus pandang.

Dari potongan pengalaman di atas dapat dikatakan bahwa saya mengalami proses belajar yaitu modelling dimana secara definisi fungsional, modelling terdiri dari serangkaian stimulus yang terorganisasi yang dapat diserap pengamat dan pengamat dapat menjalankannya berdasarkan pokok informasi. Ada dua macam model utama yaitu model nyata (keluarga, teman, rekan kerja, maupun individu lain yang berhubungan langsung dengan pengamat) serta model simbolik (televisi, film, maupun situasi yang merupakan gambaran representasi perilaku dan tidak berhubungan secara langsung dengan pengamat).

Pengalaman di atas berasal dari model nyata yaitu teman-teman seasrama yang setiap hari berhubungan langsung dengan saya yaitu bersama-sama belajar di kelas yang sama, berada di asrama yang sama, maupun menghabiskan waktu selama 6 hari dalam seminggu bersama-sama hidup di sekolah. Interaksi langsung dengan mereka membuat saya pada akhirnya me-modelling perilaku berpakaian mereka untuk membuat saya memahami bagaimana cara berpakaian yang baik sesuai dengan peraturan. Dengan adanya model perilaku dari mereka, saya belajar untuk berperilaku yang sesuai dengan mereka sehingga saya tidak salah dalam berpakaian dan tidak mendapat teguran lagi dari guru.

Hal ini sesuai dengan fungsi dari modelling, yaitu :
1.      Berfungsi sebagai petunjuk untuk meniru perilaku orang lain.
2.      Memperkuat atau memperlemah sikap menahan diri untuk melakukan tindakan tertentu
3.      Menunjukkan pola perilaku baru

Dalam mengetahui bagaimana cara berpakaian yang sesuai dengan peraturan yang diberlakukan sekolah, saya meniru bagaimana teman-teman saya yang tidak mendapatkan teguran dalam berpakaian, sehingga dengan meniru mereka, saya mengetahui bagaimana cara berpakaian yang sesuai dengan yang diharapkan sekolah. Setelah saya meniru dan berpakaian yang benar, feedback dari guru (jika masih salah maka mendapat teguran, jika benar maka tidak mendapat teguran lagi) dapat memperkuat atau memperlemah perilaku berpakaian saya. Dan akhirnya ketika cara berpakaian saya telah benar (ditandai dengan tidak ditegur lagi), maka saya akan melakukan pola perilaku yang baru berupa cara berpakaian yang tidak menyalahi aturan lagi.

Pengalaman di atas membuktikan bahwa sesungguhnya perilaku yang kita alami sehari-hari sangatlah berkaitan dengan teori kognitif-sosial. Bahkan sebenarnya masih banyak lagi kejadian-kejadian yang juga sesuai dengan teori ini karena teori Bandura berfokus pada latar naturalistik yang terjadi di sekitar kita yaitu lingkungan sosial.

Referensi : Gtedler, Margaret E. (2011). Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 23 September 2013

ANALISIS LEBIH TAJAM MENGENAI KULIAH ONLINE

ANALISIS KULIAH ONLINE DITINJAU DARI PSIKOLOGI GESTALT

Sudah sangat lama rasanya dari terakhir kali saya melaksanakan kuliah online dulu -_- dan kesempatan melaksanakan kuliah ini kembali terbuka lebar. Tepatnya hari Kamis tanggal 19 September 2013 lalu sekitar pukul 16.00 saya beserta rekan-rekan mata kuliah Psikologi Belajar melaksanakan kuliah ini. Mungkin yang terlintas pertama kali di pikiran kita ketika mendengar “kuliah online” bisa saja seperti pertanyaan “apa bisa kalau belajar ga bertatapan muka gitu?”, “apa mungkin bisa konsentrasi kalau belajarnya aja via internet?”, atau bahkan “wah, pasti belajarnya bisa sekalian nyantai”. Well, memang banyak pendapat dari tiap individu jika ditanya mengenai kuliah online. Ada yang pro dan tentu ada juga yang kontra. Itu wajar kok :D

Nah, bagaimana dengan pendapat saya? Jujur, saya suka sekali dengan metode ini. Memang pada dasarnya terkesan seperti bukan dalam setting belajar seperti yang biasa dilakukan di kampus. Tapi kalau kita mau lebih memahami dan memikirkan secara lebih dalam, justru metode ini memberikan banyak pelajaran dan proses belajar yang mungkin tidak kita dapat di perkuliahan konvensional.

Oke, kembali ke pembahasan awal, KULIAH ONLINE. Jadi, hari itu kami menjalankan perkuliahan melalui forum diskusi dari perangkat GMail. Kami semua bergabung di sebuah grup yang telah dibentuk oleh komting. Ketika mahasiswa yang tergabung dalam grup itu dirasa sudah cukup banyak, mulailah kami mengabsen dengan mengetik nama dan nim. Kemudian perkuliahanpun dimulai. Secara umum kuliah ini berjalan sukses dengan halangan yang tidak terlalu berarti. Tapi dibalik itu semua saya yakin banyak teman-teman yang memiliki perjuangan yang berbeda-beda dari saya. Apalagi kota ini kan sedang dilanda kontroversi listrik dan kudeta PLN yang membuat hati cenat-cenut dan terjadilah cemasisasi kalau tiba-tiba listrik padam dan sebagainya (korbannya Vicky -_-)

Membahas mengenai proses perkuliahan dan proses pembelajarannya, sebenarnya tanpa ataupun secara sadar, kita tidak pernah lepas dari yang namanya proses belajar. Jika lebih spesifik saya bahas berdasarkan teori, bisa saja dalam satu buah rangkaian kejadian, hal tersebut sudah termasuk ke dalam proses belajar. Bagaimana jika bahasan ini kita uraikan berdasarkan teori Gestalt? Lalu apa yang ada di dalam Psikologi Gestalt ini? Dalam teori Gestalt, perilaku yang harus dipelajari adalah perilaku “molar” bukan perilaku “molecular”. Jadi sesungguhnya yang ditinjau dari perspektif teori ini adalah perilaku secara keseluruhan, bukan spesifik dan mendetail. Teori ini juga berfokus terhadap persepsi seseorang. Mudahnya bisa dikatakan bahwa persepsi seseorang dapat dipengaruhi oleh stimuli keseluruhan yang ada dan bisa menciptakan suatu proses belajar.

Saya ingat ketika kuliah online berlangsung, walaupun semua setuju bahwa metode yang dilakukan dapat dikatakan sebagai kuliah online, tapi bisa saja tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap kuliah tersebut. Ada yang hanya sekedar kuliah online, ada yang sambil belajar untuk lebih memahami bagaimana cara mengoptimalkan fungsi email, dan sebagainya. Jadi meskipun semua mengetahui bahwa metode tersebut adalah kuliah online, namun bagaimana seseorang mempersepsikan perkuliahan itu bisa berbeda-beda.

Berbicara mengenai persepsi, tidak bisa terlepas dari stimulus dan juga respon. 1 stimulus yang diberikan bisa saja menghasilkan banyak respon yang bervariasi. Ketika kuliah online kemarin dosen pengampu yaitu Ibu Dina memberikan sebuah stimulus berupa kesempatan bagi setiap mahasiswa untuk memberikan pendapatnya mengenai proses belajar di kuliah online berdasarkan teori belajar, maka tiap orang akan memberikan pendapatnya masing-masing dan tiap orang berpendapat berbeda-beda. Mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena persepsi tiap orang berbeda-beda dalam memaknai kuliah tersebut, dan dari segi mana orang tersebut mempersepsikan kuliah online dan proses belajarnya.

Dan cara untuk menyamakan persepsi yang berbeda-beda tersebut adalah dengan memberikan stimulus yang berulang. Ketika kuliah online kemarin ada beberapa mahasiswa yang memberikan respon yaitu pendapat yang tidak sesuai dengan yang diharapkan dosen, maka dosen memberikan feedback untuk membaca kembali posting yang diberikan dosen. Setelah itu barulah persepsi dari masing-masing orang terhadap stimulus yaitu posting-an dosen dapat dilihat dari sudut pandang yang sama.

Beberapa contoh di atas pada dasarkan sesuai dengan asumsi dasar dari teori Gestalt itu sendiri. Asumsi pertama yaitu perilaku yang harusnya kita pelajari adalah yang “molar” bukan “molecular”. Kita tidak berfokus dari satu persatu kegiatan yang ada di dalam kuliah online secara spesifik. Tapi kita melihat bagaimana dinamika dari perkuliahan online yang didalamnya terdiri dari kegiatan pengabsenan, menyampaikan pendapat, pemberian feedback dari dosen, dan penutupan dari dosen yang mengakhiri perkuliahan di forum tersebut.

Asumsi kedua dan ketiga yang menyatakan bahwa individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli dan merespon berdasarkan persepsi yang kita tangkap. Pertanyaan yang diutarakan dosen seperti meminta mahasiswa mengutarakan pendapatnya merupakan stimulus yang dipersepsikan bervariasi oleh tiap individu. Pendapat mahasiswa yang beragam serta feedback dari dosen merupakan respon yang tercipta dari persepsi masing-masing individu.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa proses belajar berdasarkan teori Gestalt berfokus pada respon yang dihasilkan dari persepsi kita akan stimulus yang ada dan dipandang secara keseluruhannya. Dan proses perkuliahan secara online nyatanya memiliki banyak sekali kesempatan bagi kita untuk belajar dari setiap hal yang kita lakukan, baik secara kita sadari maupun tidak.


Referensi : Gtedler, Margaret E. (2011). Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana






Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Sabtu, 14 September 2013

Tugas Kelompok - Teori Skinner

Tugas Kelompok

Teori Belajar – Skinner


Mengapa kelompok memilih teori Skinner ?
 Ada beberapa alasan yang membuat kelompok memilih teori ini, yaitu :
a.   Teori ini bersifat aplikatif dan sangat sering digunakan dan ditemui di kehidupan sehari-hari.
b.   Teori ini mudah dipahami.
c. Teori ini menjelaskan mengenai reinforcement serta punishment, dan pada kenyataannya kebanyakan orang menyukai reinforcement dan menghindari punisment.
d.   Di kehidupan sehari-hari, saat kita mengetahui adanya konsekuensi, maka kita akan termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
e.  Ketika kita dihargai, perilaku kita akan semakin diperkuat. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Skinner.
f.    Teori ini merupakan teori yang sangat sering dipelajari dari awal perkuliahan (semester 1 hingga semester akhir).

Nb : setelah mendiskusikan jawaban mengenai alasan, kelompok sepakat bahwa semua alasan yang diungkapkan merupakan hal yang disetujui oleh seluruh anggota kelompok.

Apa yang menjadi poin utama teori Skinner ? Kaitkan pula dengan alasan kelompok memilih teori ini !
 Ada 3 poin utama dari teori Skinner, yaitu :
a.       Adanya kesempatan dimana perilaku terjadi (timing)
b.      Perilaku (behavior)
c.       Konsekuensi dari perilaku (consequence)

Alasan kelompok memilih teori Skinner sejalan dengan poin utama dari teori tersebut. Kelompok berpendapat bahwa kecenderungan manusia berperilaku dikarenakan adanya konsekuensi atas perilakunya tersebut. Konsekuensi tersebut juga harus diberikan secara konsisten sehingga perilaku yang diinginkan akan menetap. Jika perilaku yang dilakukan dianggap baik, maka akan menghasilkan reinforcement positif sehingga perilaku tersebut dipertahankan. Begitu juga dengan perilaku yang dianggap tidak baik, maka akan menghasilkan punishment sehigga perilaku tersebut hilang.

Kaitkan hubungan antara teori Skinner dengan 3 keyakinan umum filsafat konstruktivis-sosial !

Di dalam teori Skinner, terdapat juga keyakinan umum filsafat konstruktivis-sosial. Dimana pengetahuan yag diartikan sebagai produk dari setting belajar, produk dari penelitian ataupun aktivitas tertentu terlihat dari perilaku yang dihasilkan. Dalam teori Skinner, perilaku merupakan produk dari proses belajar.

Belajar itu sendiri merupakan proses untuk mendapatkan pengetahuan. Pada teori Skinner, proses pengkondisian merupakan proses belajar pada individu. Pengkondisian tidak terjadi begitu saja. Pengkondisian tersebut dilakukan secara berulang-ulang sehingga menghasilkan perilaku yang menetap (habit) yang dapat diartikan sebagai produk dari proses belajar.

Lokus belajar tidak terbatas hanya pada pikiran individu, namun terjadi di komunitas partisipan dan didistribusikan diantara sesama partisipan. Begitu juga pada teori Skinner, dimana kita mendapatkan reward atau punishment melalui proses interaksi dengan orang lain. Dan ada distribusi dari individu luar (orang lain atau lingkungan) terhadap individu yang sedang melakukan proses belajar. 



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Minggu, 08 September 2013

Pengalaman "Belajar"

Akhirnya saya bertemu dengan tugas pertama mata kuliah Psikologi Belajar. Tugas yang cukup menarik menurut saya ^^. Mahasiswa diminta untuk menuliskan pengalaman yang berkenaan dengan teori yang ada pada materi yang akan kami pelajari minggu ini. Awalnya saya bingung mau membahas pengalaman tentang apa. 

Tapi, dengan semangat yang membara (lebay dikit -__-v) dan akhirnya saya menemukan titik terangnya :D
Bismillahirrahmanirrahim..

Begini ceritanya ~

Suatu hari tepatnya saat saya sedang berada di bangku sekolah menengah, kebetulan saya bersekolah di Boarding School (sekolah berasrama) dimana dari hari Minggu sore sampai Sabtu siang saya akan menghabiskan waktu berada di lingkungan sekolah sebagai rumah kedua bagi saya. Dan secara otomatis, saya tinggal di asrama bersama dengan teman-teman saya lainnya. Untuk asrama, seluruh siswa dibagi ke dalam 5 jenis asrama. Tiga buah asrama putri dan dua buah asrama putra. Nah, singkat cerita bahwa saya tinggal di salah satu asrama yang beranggotakan tiap-tiap kamar berkisar 3-4 orang. Saat naik ke kelas 2 sempat terjadi pertukaran anggota kamar sehingga saya mendapatkan teman kamar atau bahasa gaulnya roommate yang baru, sehingga saya dituntut untuk beradaptasi dengan orang-orang baru dimana kami akan menghabiskan waktu selama 2 tahun ke depan untuk tinggal di kamar yang sama. Sebenarnya dari 3 orang roommates saya ini, 2 diantaranya merupakan teman yang cukup dekat dengan saya, ditambah lagi saat kelas 1 kami bertiga berada di kelas yang sama sehingga tidak menjadi sesuatu yang sulit bagi saya untuk beradaptasi dengan mereka. Namun dengan teman yang 1 lagi (sebut saja Rina), saya benar-benar harus bekerja ekstra dalam beradaptasi dengannya. Dan mengenai kepribadiannya, dia memang anak yang introvert dan sulit bergaul dengan kami bertiga yang lebih cenderung extrovert dan ribut -__-

Pada awalnya saya merasa sedikit kesal dengan sikap Rina yang sangat cuek dan cuma berbicara seadanya saja. Saya merasa sering dicuekin. Ditambah lagi kedisiplinannya yang sangat mengagumkan, bayangkan saja, dia sudah bangun pagi pada pukul 04.00 untuk mandi, bersiap-siap ke musholla untuk sholat subuh berjamaah, setelah pulang sholat, Ia bersiap untuk ke ruang makan, dan tepat berada di kelas pukul 07.00 WIB. Sedangkan saya beserta 2 teman saya lainnya bangun sekitar pukul 05.00 dan mandi setelah pulang dari musholla. Hal lain yang membuat saya sering terdiam dan salah tingkah apabila saya menanyakan tentang pelajaran yang sangat saya tidak sukai (baca: Fisika), dia pasti hanya menjawab “baca aja sendiri dari buku” dengan nada datar dan tanpa ekspresi -_____-. Meskipun pada akhirnya dia tetap akan mengajari bagian yang saya tanyakan itu apabila melihat ekspresi muka saya sudah pasrah :")

Seiring berjalannya waktu yang kami habiskan bersama-sama sebagai roommates, rasa kesal saya kepada Rina menghilang. Saya mulai belajar untuk menerima Rina serta sifatnya yang bertolak belakang dengan saya. Saya juga mulai terbiasa dengan segala sikap dinginnya dan tidak lagi salah tingkah apabila dia bersikap cuek kepada saya dan rommates lainnya.

Dari pengalaman ini, saya mengalami proses belajar (learning) yaitu proses multisegi yang biasanya dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks. Aktivitas kognitif yang sering kita sebut belajar sangat berkaitan dengan 3 aspek unik dari kecerdasan manusia, yaitu:
1.     Manusia mampu mempelajari penemuan, penciptaan, dan ide-ide dari pemikiran besar dan ilmuwan besar di masa lampau (pengalaman yang diwariskan; Vygotsky, 1924/1979).
2.     Individu mampu mengembangkan pengetahuan tentang tempat dan kejadian yang belum pernah mereka alami secara personal melalui pengalaman milik orang lain (pengalaman sosial).
3.   Dan yang terakhir, manusia menyesuaikan lingkungan dengan diri mereka, tidak hanya beradaptasi dengan lingkungannya (pengalaman yang diulang).

Aktivitas kognitif yang saya lakukan mengenai sikap Rina terhadap saya dimulai dengan mengidentifikasi sifat-sifatnya yang saya pelajari dari pengamatan selama hidup bersama-sama dengannya. Kemudian dari identifikasi tersebut, saya mulai belajar untuk dapat beradaptasi dan terbiasa dengan sikapnya yang cenderung cuek.

Jika lebih dispesifikkan, maka teori Classical Conditioning cukup sesuai dengan proses belajar yang saya lakukan. Jadi, meskipun dia bersikap cuek terhadap saya, dikarenakan dia tetap membantu saya jika saya meminta pertolongannya, serta mengetahui bahwa sikapnya tersebut merupakan kepribadiannya, maka saya tidak kesal dan marah terhadapnya.

Begitulah pengalaman singkat saya saat SMA dulu, pada akhirnya saya dan seluruh roommates saya mampu menjalani kehidupan bersama-sama di asrama dan saling menerima sifat masing-masing pribadi meskipun berbeda satu sama lain. Dan tugas saya minggu inipun selesai. Tugas ini membuat saya semakin sadar bahwa di dunia ini kita tidak akan pernah lepas dari proses belajar agar menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari waktu sebelumnya. Mungkin hal ini sejalan dengan quote berikut :

”Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Sedangkan orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.” – Mario Teguh

Saya yakin ketika saya mau belajar, maka saya dapat melewati waktu ke waktu dengan lebih baik lagi. Keep spirit ^^
FIGHTING chingu-deul ~




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer