Sabtu, 12 April 2014

Analisis Tentang Proses Pembelajaran Berdasarkan Pedagogi Praktis Abad Ke-21

Kalau dilihat dari postingan saya beberapa waktu lalu, saya sudah mempostingkan mengenai Proses Pembelajaran yang saya lakukan (bersama teman kelompok saya). Kemudian saya mencoba untuk mengaitkannya dengan analisis menggunakan konsep pedagogi abad ke 21.
Cekidot ~

Ketika saya melakukan proses pembelajaran beberapa waktu lalu, ada beberapa teori yang dapat menjelaskan beberapa hal guna menganalisis diri saya menggunakan teori-teori pedagogi abad 21, yaitu :
1.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk TIK, telah melahirkan perubahan dalam pola pembelajaran, juga telah lahir paradigma baru pembelajaran berbasis teknologi dan komunikasi (Danim, 2010, h. 101)
Adanya kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi menjadi modal awal bagi saya memberikan saran kepada kelompok dalam beberapa pengajaran yang akan kami berikan kepada anak-anak. Seperti yang diketahui bahwa teknologi sangat modern pada saat ini, maka saya pikir bahwa memberikan pengajaran kepada anak menggunakan media teknologi seperti misalnya memperkenalkan alphabeth dengan video akan cukup efektif.

2.      Kekuatan pedagogi ilmiah adalah membuat pembelajaran semakin praktis dilihat dari prisma konsep teoritis karena memang teori merupakan sesuatu yang praktis (Danim, 2010, h. 103)
Ketika saya bertindak sebagai pengajar pada proses ini, melalui pengetahuan dari teori perkembangan mengenai anak-anak dan perkembangan pada aspek kognitif, afektif, dan konatifnya, saya memiliki teori yang cukup untuk dapat memilah dan memilij kata-kata dan tindakan apa saja yang harus saya lakukan dalam mengajar kepada mereka. Dengan adanya bekal dari teori tersebut, saya jadi mengetahui bahwa saya harus menggunakan kata-kata yang sederhana agar mudah dimengerti. Juga kata-kata yang bersifat tidak abstrak dalam menggunakan contoh-contoh karena masih terbatasnya kemampuan pada masa anak-anak. Dengan melakukan hal-hal yang didasari dari teori yang ada tersebut, membuat pembelajaran bagi saya lebih praktis dan lebih efektif, sehingga pada proses pembelajaran, anak-anak yang saya ajarkan cukup memahami penjelasan dari saya.

3.      Beberapa alasan tidak semua guru dapat menimba pengalaman baru selama menjalani proses pembelajaran (Danim, 2010, h. 103).
Saya selaku pengajar pada saat proses pembelajaran berlangsungpun merasakan adanya kekurangan yang saya miliki sehingga saya tidak maksimal mendapatkan pengalaman-pengalaman dan pembelajaran pada saat proses pembelajaran berlangsung, di antaranya adalah :
a.      Informasi yang berlebihan
Menurut saya alasan ini tidak menghambat saya dalam menimba pengalaman baru karena informasi yang saya peroleh cukup dan tidak berlebihan karena ada banyak hal yang saya ketahui melalui teori-teori tentang perkembangan pada masa anak-anak yang sesuai dengan yang saya dapatkan di lapangan.
b.      Kurangnya waktu untuk berbagi pengetahuan
Dengan keterbatasan waktu yang saya, kelompok, dan anak-anak miliki, membuat kami khususnya saya kurang mengeksplor beberapa hal yang harusnya bisa memberikan tambahan pengetahuan mengenai bagaimana cara menghadapi anak-anak. Karena pembagian tugas yang harus merata antar anggota kelompok, maka saya tidak bisa full dalam berinteraksi dengan anak-anak. Hal ini menurut saya cukup membatasi diri saya dalam mengumpulkan pengalaman-pengalaman yang bisa saya ambil dari proses pembelajaran kemarin, meski demikian saya tetap mencoba memaksimalkan diri saya mengumpulkan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan mengenai anak-anak selama proses berlangsung.
c.       Tidak menggunakan teknologi untuk berbagi pengetahuan secara efektif
Menurut saya, kami selaku kelompok yang bertugas mengajar telah melakukan hal yang optimal dalam penggunaan teknologi dalam proses pengajaran sehingga alasan ini menurut saya tidak menjadi penyebab terhambatnya pengumpulan pengalaman untuk saya.
d.      Kesulitan menangkap pengetahuan yang diperoleh
Pada saat proses pembelajaran berlangsung, mungkin banyak hal yang bisa saya jadikan pengetahuan tambahan. Namun saya juga menyadari, dengan keterbatasan waktu, kemampuan, dan pengalaman yang saya miliki dalam berhadaan dengan anak-anak, membuat informasi-informasi yang saya dapatkan jadi lebih terbatas karena saya cukup banyak memberikan atensi kepada anak-anak dalam satu fokus saja.
e.       Adanya pengekangan terhadap kreativitas
Dengan beragamnya kepribadian pada anak-anak tersebut, ide-ide yang saya pikirkan sebelum proses berjalan yang ingin saya lakukan jadi terbatas karena harus disesuaikan dengan keadaan dan kemauan anak. Sehingga pengalaman yang saya dapatkan otomatis juga terbatas.

4.      Menurut Youth dan Lucas menjadi sangat penting bahwa profesi guru mengembangkan pendekatan sendiri untuk spesialisasi profesional di bidang pedagogi. Hallam dan Ireson menyarankan beberapa kerangka kerja yang dimungkinkan oleh guru untuk mengembangkan pendekatan sendiri untuk pedagogi (Danim, 2010, h. 104), yaitu :
a.      Pertimbangkan tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang mendukung pengajaran
Dengan adanya pertimbangan tentang tujuan dari tiap sesi dari proses pembelajaran yang dilakukan, cukup mengarahkan diri saya dalam bertindak pada saat proses berlangsung. Sehingga terkadang apabila beberapa kejadian terjadi di luar perkiraan awal, misalnya seperti respon dari anak yang tidak seperti diharapkan, saya mencoba mencari ide lain guna membuat tujuan awal dari proses pembelajaran tersebut tidak benar-benar gagal.
b.      Pengetahuan tentang teori belajar
Di semester sebelumnya saya telah mengetahui banyak teori belajar yang ada, dan dari situlah dasar saya juga melakukan proses belajar. Tiap pertemuan pastinya memberikan saya informasi baru tentang anak sehingga lebih mempermudah saya mengetahui cara-cara ‘menjinakkan’ mereka agar tidak banyak ‘bertingkah’ dengan menghindari hal-hal yang menurut saya mungkin tidak mereka sukai dan melakukan hal yang menurut saya mungkin dapat membuat mereka bisa diajak bekerja sama dengan baik dalam proses pembelajaran tersebut.
c.       Pengetahuan tentang konsep-konsep yang berbeda dari mengajar
Tiap anak memiliki kepribadian yang berbeda-beda sehingga metode mengajarpun pastinya akan berbeda-beda apabila ingin semua proses dapat optimal disampaikan untuk anak-anak. Kebetulan di proses pembelajaran kelompok saya mempunyai pembagian yang adil dalam menangani anak. Tiap anak mempunyai 1 orang kakak pendamping dalam tiap proses tersebut. Dengan bermodalkan pengetahuan dari tiap pertemuan dengan anak, maka itu menjadi modal untuk saya mendekati mereka dan mengajarkan mereka dengan konsep-konsep yang disesuaikan dengan tipe mereka. Meskipun kenyataannya tidak semua anak bisa saya taklukan sesuai dengan konsep yang saya gunakan.
d.      Pengetahuan tentang model pembelajaran dan konsep dinamis karakteristik siswa, lingkungan, proses pengajaran, dan jenis pembelajaran
Hampir sama dengan poin-poin sebelumnya, dengan bermodalkan proses belajar yang saya dapatkan mengenai anak-anak tersebut di setiap pertemuan membuat saya lebih mudah untuk mencoba berdaptasi dengan cara-cara apa untuk membuat mereka lebih mudah menerima pembelajaran, dan hal ini yang terkadang membuat saya mau tidak mau memodifikasi cara mengajar saya agar mereka tidak menolak saya pada saat mengajar.
e.       Memahami bagaimana pedagogi dapat dioperasionalkan di dalam kelas
Sebenarnya saya masih kurang memahami pedagogi secara konsep yang mendalam. Namun dari pengetahuan-pengetahuan dasar saya tentang pedagogi, memberikan saya bekal sedikit untuk menerapkannya pada saat proses pembelajaran sehingga saya harus cukup bersabar dalam berinteraksi dengan anak-anak agar konsep pedagogi tersebut dapat saya jalankan. Saya harus benar-benar membuat anak dekat dengan saya terlebih dahulu agar dia mau menuruti yang saya katakan sehingga saya bisa menuntun mereka untuk dapat melakukan proses pembelajaran yang kelompok lakukan.
f.       Pengetahuan dan keterampilan untuk mengevaluasi praktik, penelitian, dan teori yang berkaitan dengan pendidikan
Ketika proses pembelajaran telah selesai dan saya beserta kelompok harus menuliskan laporannya, saya pada akhirnya melakukan evaluasi mengenai proses yang kami lakukan dengan beberapa teori yang ada. Sehingga dengan adanya evaluasi ini, mungkin kedepannya saat saya harus menghadapi anak-anak dalam mengajar, saya jadi mengetahui pendekatan seperti apa yang tepat untuk saya lakukan pada anak-anak.

5.      Konten pedagogi mengacu pada keterampilan pedagogis yang guru gunakan untuk menanamkan pengetahuan khusus atau isi kurikulum kepada siswa (Danim, 2010, h. 108)

Karena proses pembelajaran yang dilakukan adalah berhubungan dengan anak-anak dan konsep pedagogi, maka secara otomatis pendekatan yang saya lakukan juga berunsurkan pedagogi. Dengan adanya modal awal pada diri saya tentang konsep dasar pedagogi, maka saya mencoba mengajarkan anak dengan cara yang sesuai dengan konsep pedagogi, di mana saya berusaha menuntun anak dalam tiap proses pembelajaran yang dilaluinya dengan cara yang mudah mereka mengerti. Sehingga dengan menggunakan konsep pedagogi dalam melaksanakan proses pembelajaran kemarin, maka ketika dievaluasipun, konten pedagogi dalam aktivitas selama proses pedagogis yang saya lakukan menurut saya cukup banyak dan tampak.

Beginilah analisis yang mampu saya lakukan. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya (^,^)


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

0 komentar:

Posting Komentar